RESEARCH ARTICLES

OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 30 Apr 2023 | https://doi.org/10.11594/ojkmihttps://doi.org/10.11594/ojkmi.v5i1.54
Year : 2023 | Volume: 5 | Issue: 2 | Pages : 1

GAMBARAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN RETINOPATI DIABETIK DI PMN RS MATA CICENDO 2021–2022

  • 1Universitas Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

 Kelainan refraktif merupakan kelainan visual yang seharusnya dapat dicegah dan dikendalikan namun kelainan refraktif ini banyak yang tidak dikoreksi sehingga jumlahnya terus meningkat secara signifikan dan menjadi salah satu penyebab kebutaan dan hambatan saat beraktifitas.

Introduction

Saat ini sangat kurang perhatian mengenai gangguan penglihatan khususnya pada anak sekolah, kelainan refraktif merupakan salah satu gangguan penglihatan yang paling sering terjadi. Penglihatan merupakan cara utama manusia untuk mengintegrasikan dirinya dengan lingkungan eksternal.1 Kelainan refraktif merupakan kelainan visual yang seharusnya dapat dicegah dan dikendalikan namun kelainan refraktif ini banyak yang tidak dikoreksi sehingga jumlahnya terus meningkat secara signifikan dan menjadi salah satu penyebab kebutaan dan hambatan saat beraktifitas.2

Kelainan ini banyak ditemukan pada anak-anak sekolah. Prevalensi penderita miopia di negara Amerika Serikat dan Eropa adalah sekitar 40-60% tetapi di Asia prevalensinya mencapai 70-90% dan angka rata-ratanya meningkat diseluruh kelompok etnik. Prevalensi kelainan refraksi pada anak usia sekolah di Indonesia (5-19 tahun) sekitar 10% dari 66 juta anak.3

Kelainan refraktif yang paling sering terjadi pada anak adalah miopia. Miopia merupakan jenis dari kelainan refraksi sering terjadi pada populasi usia sekolah.4 Miopia adalah suatu kelainan mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tidak terhingga akan dibiaskan di depan retina.5

Di Indonesia terutama anak-anak remaja yang golongan ekonomi keluarganya menengah keatas mempunyai angka kejadian miopia yang semakin meningkat. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan miopia, salah satu faktor yang berpengaruh dalam perkembangan miopia adalah aktivitas melihat dekat atau nearwork. Faktor resiko yang paling nyata adalah berhubungan dengan aktivitas jarak dekat, seperti membaca, menulis, menggunakan komputer dan bermain video game. 6

Adanya kemajuan teknologi dan telekomunikasi (media elektronik) seperti televisi, komputer, video game, dan lain-lain, secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan aktivitas melihat dekat.7

Pada penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Umum FKUI, Jakarta yang sedang menjalani kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas Bidang Pediatri Sosial di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hampir seluruh murid (94,5 persen) memiliki televisi. Hanya 39,4 persen anak memiliki videogame, tetapi sebagian besar memiliki akses terhadap rental videogame (70, 1 persen). Meskipun hanya sedikit anak yang memiliki komputer (15, 7 persen), akses terhadap rental komputer cukup tinggi (56,7 persen). Tingginya akses terhadap media visual ini apabila tidak diimbangi dengan pengawasan terhadap perilaku buruk, seperti jarak lihat yang terlalu dekat serta istirahat yang kurang, tentunya dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya miopia.8

Penelitian Launardo di Makassar, mengemukakan bahwa prevalensi kelainan refraksi sebesar 2,7%. Kejadian kelainan refraksi yang bermakna pada subyek dengan aktivitas nonton dekat, lebih tinggi dibandingkan subyek tanpa aktivitas nonton dekat (P = 0,003).9

Selanjutnya, pada pretest penelitian Mesah (2012) yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa SDN Penanggungan Kota Malang tentang kesehatan mata dan miopia masih sangat rendah.10

Dan juga pada penelitian Putri tahun 2014, 98 orang responden (93,3%) memiliki tingkat pengetahuan yang buruk mengenai rabun jauh (miopia).12

Pengetahuan merupakan unsur penting dalam pembentukan perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan cara pandang dalam menyikapi dan memandang sebuah kesehatan. Terkait dengan penyakit miopia, pengetahuan memegang peranan penting. Banyak sekali masyarakat yang belum mengetahui apakah hal-hal yang terkait dengan kesehatan mata khususnya miopia. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).13

Walaupun kelainan refraksi sudah cukup banyak terjadi dan umum di masyarakat, namun pengetahuan mereka mengenai kelainan refraksi dan kesehatan mata ini masih belum cukup. Padahal pengetahuan ini sangat penting terutama mengenai koreksi kelainan refraksi. Jika kelainan refraksi tidak dikoreksi dapat menimbulkan komplikasi seperti esotropia (juling ke dalam) bahkan kebutaan. 

Oleh karena itu, dikarenakan masih kurangnya penelitian tentang “Hubungan tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia pada anak sekolah menengah pertama” maka penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut.

Materials and Methods

Penelitian ini dilakukan secara Analitik dengan metode pengumpulan data secara cross sectional untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan prevalensi miopia dan faktor yang mempengaruhinya pada siswa-siswi SMP Neg. 1 Sinjai Utara. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Neg. 1 Sinjai Utara. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember-Februari tahun 2015-2016. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik cluster random sampling, sehingga pengambilan sampel dibedakan pada tiap kelas 1 di SMP Neg. 1 Sinjai Utara.

Results

Pada uji Chi-Squere untuk melihat hubungan variable independent terhadap variabel dependen didapatkan hasil yaitu nilai p = 0,945 berarti p > 0,05 menandakan H0 diterima dan Ha ditolak menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian myopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016. 

Discussion

Pada penelitian ini pertama – tama ingin melihat tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016. Dibab sebelumnya telah dipaparkan hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan responden, dan didapatkan hasil bahwa rendahnya tingkat pengetahuan anak tentang penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia. Hal ini terjadi karena lebih tingginya tingkat pengetahuan anak yang Buruk mengenai penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia dibandingkan yang tingkat pengetahuannya Baik.

Penelitian sebelumnya (Mesah, 2012) mempertegas penelitian ini, yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa SDN Penanggungan Kota Malang tentang kesehatan mata dan miopia masih sangat rendah.10

Dan juga pada penelitian Putri tahun 2014, 98 orang responden (93,3%) memiliki tingkat pengetahuan yang buruk mengenai rabun jauh (miopia).12

Pengetahuan siswa mengenai pengertian mata, tanda dan gejala penyakit miopia, faktor-faktor yang mempengaruhi miopia, cara pencegahan miopia dan penanggulangan miopia sangat diperlukan agar siswa bisa mendapatkan kesehatan mata yang optimal. Tingkat pengetahuan siswa tidak pernah lepas dan dipengaruhi oleh banyak hal terutama lingkungan sekitar. Keterpaparan informasi baik dari media masa dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekokah menambah tingkat pengetahuan dari siswa mengenai kesehatan mata khususnya kelainan refraksi seperti myopia

Selanjutnya mengenai frekuensi visus responden untuk tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016. Bab sebelumnya juga telah memaparkan responden yang tidak mengalami miopia (Normal) lebih tinggi dibandingkan yang mengalami miopia karena ada beberapa faktor lain penyebab terjadinya miopia seperti faktor keturunan dan faktor dari mata tersebut.

Hal ini sama pada penelitian Sasraningrat (2011), yaitu lebih tingginya yang tidak mengalami miopia (Normal), dibandingkan yang mengalami miopia.32

Jumlah tersebut harus mendapatkan pemeriksaan ulang di rumah sakit karena ada kemungkinan jumlah tersebut tidak semua yang memerlukan kacamata karena ada faktor lain yang mempengaruhi ketajaman penglihatan seperti gangguan saraf mata.

Kelainan refraksi paling sering dijumpai pada masa sekolah atau usia perkembangan adalah miopia. Dalam hal ini siswa yang mengalami miopia, siswa tersebut akan mengalami kesulitan dalam membaca tulisan di papan tulis sehingga prestasi sekolahnya dapat menurun. Keadaan ini seringkali tidak disadari oleh orang tua dan guru sehingga terkadang anggapan untuk murid adalah bodoh. Kelainan refraksi ini dapat ditangani yaitu dengan pemberian kacamata. 

Walaupun angka kejadian miopia pada penelitian ini lebih rendah, akan tetapi tetap memperlihatkan bahwa masih ada anak yang menderita miopia. Dan hal ini perlu perhatian khusus terutama dari orang tua dan guru agar anak tersebut tidak diabaikan saja mengalami miopia.

Mengenai pembahasan tentang hubungan tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016, didapatkan pada Uji Chi–Square untuk melihat hubungan variabel independent terhadap variabel dependen yaitu tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan anak dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia Di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016.

Pada penelitian Putri (2014), yaitu penyuluhan miopia efektif dapat meningkatkan pengetahuan siswa kelas VI SD Islam Al-Azhar 21 hasil analisis dengan uji Wilcoxon.13 Dan penelitian yang dilakukan di Aceh pada Anak SMA didapatkan hubungan antara penggunaan media elektronika yang berisiko terhadap timbulnya miopia.33

Walaupun penelitian – penelitian sebelumnya berbeda, berbanding terbalik dan juga tidak begitu menggambarkan secara utuh atau sama persis dengan penelitian ini, akan tetapi memperlihatkan bahwa pengetahuan dan pengunaan media elektronik tetap memiliki resiko dalam kejadian timbulnya miopia.

Tidak adanya hubungan yang didapatkan dalam penelitian ini, tidak serta merta mengabaikan faktor – faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya miopia yaitu faktor keturunan, aktivitas melihat dekat. Hasil – hasil pada penelitian dibawah ini menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya miopia. 

Penelitian Lisa dan kawan kawan, juga mengatakan bahwa ada hubungan antara riwayat miopia orang tua dengan miopia (p<0,0001), mengindikasikan bahwa kemungkinan anak memiliki resiko tinggi menjadi miopia meningkat seiring jumlah orang tua yang mengalami miopia.23

Penelitian secara genetik juga pernah dilakukan untuk mengidentifikasi lokus genetik yang berhubungan dengan kejadian miopia, terutama miopia ekstrim. Penelitian secara genetik, telah mengindentifikasi lokus gen untuk miopia (2q, 4q, 7q, 12q, 15q,17q, 18p, 22q, dan Xq), dan gen 7p15, 7q36, dan 22q11 dilaporkan ikut mengatur kejadian miopia.24

Penelitian lain juga menemukan 7q36 berhubungan dengan kejadian miopia berat (> - 6D). Hal ini membuktikan bahwa riwayat miopia di keluarga merupakan faktor resiko yang penting dalam kejadian miopia.25

Penelitian Arbaatun tahun 2012 menemukan hubungan jarak baca dekat (< 30 cm) dengan timbulnya miopia pada anak. Hubungan tersebut secara statistik bermakna (OR=7.7; p=0.001 CI 95% 2.3 hingga 24.4), sehingga anak yang biasa membaca dengan jarak < 30 cm memiliki risiko untuk menjadi miopia 7,7 kali lebih besar dari pada jarak bacanya lebih dari 30 cm.26

Conclusion

Dalam penelitian ini didapatkan hasil yaitu tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016.

Tingkat pengetahuan responden dalam penggunaan media elektronik terhadap kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016 masih banyak yang Buruk dibandingkan yang tingkat pengetahuannya Baik.

Angka kejadian miopia di SMP Neg. 1 Sinjai Utara Tahun 2016 lebih rendah dibandingkan yang tidak mengalami myopia.

References

1.     Wijaya, M. 2010. Prevalensi Penurunan Ketajaman Penglihatan Pada Siswa-Siswi Sekolah Dasar Kelas 4-6. (online) (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21449/appendix.pdf) diakses 16 November 2014.

2.     Baker Brad J., Ronald C. Pruett., 2009, Degenerative Myopia. Di dalam: Yanoff, M, Duker JS.: Ophtalmolog, Ed ke-3, United Kingdom, Elsevier.

3.     Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.

4.     Depkes RI.Survei kesehatan indera penglihatan 1993-1996 : Jakarta 1997.

5.     Baker Brad J., Ronald C. Pruett., 2009, Degenerative Myopia. Di dalam: Yanoff, M, Duker JS.: Ophtalmolog, Ed ke-3, United Kingdom, Elsevier.

6.     Sahat, Ferry, 2006. Miopia, Menurunnya Prestasi Belajar Anak Perkotaan. Jakarta: Koran Kompas. Available from: http://groups.yahoo.com/group/indonesianschoollibrarian/message/282?var=1. [Accessed 24 November 2015].

7.     Ganong, W.F. Fisiologi Kedokteran, edisi 20. Jakarta : EGC, 2003. 143-150

8.     Sahat, Ferry. Miopia, Menurun Prestasi Belajar Anak Perkotaan. http://www.kompas.com/kesehatan/news/0605/08/141155.html. (akses tanggal 31 January 2016)

9.     Launardo, Anastasia Vanny. Kelainan Refraksi Pada Anak Usia 3-6 Tahun. Di Kecamatan Tallo Kota Makassar.

10.  Mesah, Novalita. 2012. Peran Program Duma Sera (Duta Mata Sehat Nusantara) Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan, Pengkaderan Siswa, Pemeriksaan Visus Mata, Dan Perubahan Kebiasaan Pemeliharaan Mata Secara Mandiri Pada Siswa SDN Penanggungan Kota Malang, Universitas Brawijaya, Fakultas Kedokteran, Malang.

11.  Tanjung H., 2003, Perbedaan Rata-rata Rigiditas Okuler pada Miopia dan Hipermetropia di RSUP H. Adam Malik Medan. USU Digital Library: Medan. Available from URL: http://library.usu.ac.id

12.  Putri, Dwi Erlinda. 2014. Efektivitas Penyuluhan Rabun Jauh (Miopia) Terhadap Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas Vi Sd Islam Al-Azhar 21 Kecamatan Pontianak Tenggara. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura.

13.  Notoatmodjo, Soekidjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2003. h. 65; 121; 125.

14.  Perdani. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran.Edisi II. Jakarta : Sagung Seto. 2002.

15.  Sirlan F. Survei pengetahuan, sikap dan praktek masyarakat di Jawa Barat terhadap kesehatan mata, tahun 2005. Ophthalmologica Indonesiana.2006.

16.  Notoatmodjo S. Prinsip-prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. 2003.

17.  Humaidi, Syahrul. Dampak Radiasi Monitor Komputer. www.radiasimonitor.pdf . 2005.

18.  Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. Oftalmologi Umum.Edisi XIV. Jakarta: Widya Medika.2000.

19.  Spraul CW,Lang GK. Optic and refractive errors in Lang GK,ed. Ophtalmology : A short Textbook. Stuttgart : Thieme. 2000; 423-36.

20.  Ilyas, Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

21.  Furqonita, Deswaty. 2006. Seri IPA, BIOLOGI. Quadra. Jakarta.

22.  Hartanto Willy, Inakawati Sri. Kelainan Refraksi Tak Terkoreksi Penuh Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Media Medika Muda 2010.

23.  Jones-Jordan LA, Sinnott LT, Manny RE, Cotter SA, Kleinstein RN, Mutti DO, et all. Early Childhood Refractive Error and Parenteral History of Myopia as Predictors of Myopia. Invest Ophthalmol Vis Sci [Internet]. 2010 Jan [cited 2012 Jan 9] vol 51(1) : 115-121. Available from: http://www.iovs.org/content/51/1/115.short.

24.  Alexander AB. Genetics of myopia [abstract] Oman J Ophthalmol.[internet]. 2011 May-Aug [cited 2013 May 1]. Vol 4(2): 49. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3160068/.

25.  Klein AP, Duggal P, Lee KE, Cheng CY, Klein R, Bailey-Wilson JE, Klein BE. Linkage Analysis Of Quantitative Refraction And Refractive Errors In The Beaver Dam Eye Study [abstact]. Invest Ophthalmol Vis Sci [internet]. 2011 Jul [cited 2013 May 1] vol 13;52(8):5220-5. Available from: http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21571680.

26.  Arbaatun, F. 2012. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Miopia Pada Anak Usia 8-12 Tahun (Studi Kasus Di Sd 16 Muhammadiyah Bendo, Kec. Kalibawabg, Kab. Kulon Progo). Undergraduate thesis, Diponegoro University. Available from: http://eprints.undip.ac.id/35185/.

27.  Gilmartin B. Myopia : precedents for research in the twenty-first century. Clinical and Experimental Ophtalmology. 2004.

28.  Suangga, Annisa. Dkk. Hubungan Aktivitas Bermain Video Game Dengan School Miopia Pada Siswa Siswi SD As Syifa 1 Bandung. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. 2011.

29.  Ilyas, Sidarta. 2006. Kelainan Refraksi Dan Kacamata Edisi Kedua. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

30.  Anonymous. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/SMF Ilmu Penyakit Mata RSU Dr. Soutomo. Surabaya: RSU Dr.Soetomo.

31.  Hasibuan, Fatika Sari. 2009. Hubungan Faktor Keturunan, Lamanya Bekerja Jarak Dekat, Dengan Miopia Pada Mahasiswa FK USU. Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara. Medan.

32.  Sasraningrat. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Siswa Sd Islam Ruhama Cireundeu Kelas 5 Dan 6 Terhadap Miopia Dan Faktor Yang Mempengaruhinya Tahun 2011. Program Studi Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. 2011.

33.  Anonymous. Hubungan Penggunaan Media Elektronik Visual Terhadap Timbulnya Miopia Pada Siswa SMA Negeri 4 Banda Aceh. 2007.


Keywords: Miopia, Tingkat pengetahuan

Citation: *, ( 2023), GAMBARAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN RETINOPATI DIABETIK DI PMN RS MATA CICENDO 2021–2022. OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 5(2): 1

Received: 08/01/2023; Accepted: 08/30/2023;
Published: 30/04/2023

Edited by:

Ms.Wafa Naqiya , Rova Virgana , Arief S. Kartasasmita ,

Reviewed by:

Dr.Elfa Ali Idrus, , Indonesia National Eye Centre, Cicendo Eye Hospital Bandung, US

Ine Renata Musa, -, -, ID

*Correspondence: Ms.Wafa Naqiya, wafa20003@mail.unpad.ac.id