RESEARCH ARTICLES

OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 30 Dec 2020 | 1
Year : 2021 | Volume: 3 | Issue: 2 | Pages : 1

Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Jenis Kelainan Refraksi pada Anak di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo

  • 1, PMN RS Mata Cicendo,

Introduction: Refractive disorder is one of the most common causes of visual impairment worldwide and becomes the second leading cause of blindness that can be cured. Uncorrected refractive error is the leading cause of vision impairment in children. An estimated 12,8 million children 5 to 15 years of age worldwide are affected.

Purpose: To describe the correlation between age and sex with the refractive disorder in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital on January – December 2015.

Method: An analytical observational study. The subjects were children diagnosed with refractive disorders based on medical records at the pediatric ophthalmology and strabismus department in Cicendo Eye hospital. The data analyzed using chi-square (x2) with significances of p < 0.05.

Results: We found 1684 refractive error patients; 41.9% are boys and 58.1% girls. It mainly happened in 11-15 years of age (52.9%). Simple myopia and compound myopic astigmatism are mostly found in girls aged 11-15 years old. Simple hypermetropia and simple myopic astigmatism are primarily in boys aged 6-10 years old, and compound hypermetropic astigmatism in boys 0-5 years old.

Conclusion: Recognition of any refractive error in children is a major step in preventing childhood vision loss, a significant public health problem. There is a correlation between age and sex with the refractive disorder (p < 0.05).

Keywords: refractive disorders, children, visual impairment.

Introduction

Refractive disorder is one of the most common causes of visual impairment worldwide and becomes the second leading cause of blindness that can be cured. Uncorrected refractive error is the leading cause of vision impairment in children. An estimated 12,8 million children 5 to 15 years of age worldwide are affected.

Materials and Methods

An analytical observational study. The subjects were children diagnosed with refractive disorders based on medical records at the pediatric ophthalmology and strabismus department in Cicendo Eye hospital. The data analyzed using chi-square (x2) with significances of p < 0.05.

Results

We found 1684 refractive error patients; 41.9% are boys and 58.1% girls. It mainly happened in 11-15 years of age (52.9%). Simple myopia and compound myopic astigmatism are mostly found in girls aged 11-15 years old. Simple hypermetropia and simple myopic astigmatism are primarily in boys aged 6-10 years old, and compound hypermetropic astigmatism in boys 0-5 years old.

Discussion

Kelainan refraktif merupakan penyebab pertama gangguan penglihatan berdasarkan World Health Organization (WHO). Sembilan belas juta anak usia dibawah 15 tahun diperkirakan mengalami gangguan penglihatan, 12 juta diantaranya disebabkan karena kelainan refraksi. Lebih dari 1 juta diantaranya mengalami kebutaan seumur hidup dan membutuhkan rehabilitasi visual.4 
Penelitian ini melaporkan bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 41.9% dan perempuan sebesar 58.2%. Hasil ini sesuai dengan Refractive Error Study in Children (RESC) yang dilakukan di beberapa Negara termasuk Cina, Chili, Nepal dan India memberikan gambaran adanya perbedaan angka gangguan refraksi pada anak laki-laki dan perempuan. Hasil ini juga serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Solange dkk di Brazil tahun 2008 dimana anak perempuan lebih banyak yaitu sebanyak 51,8%. Penelitian yang dilakukan oleh Opubiri dkk, Ratanna dkk, dan Czepita dkk juga menyatakan bahwa kelainan refraksi lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini juga sepadan dengan hasil penelitian meta- analisis oleh Pan dkk. yang menemukan kelainan refraksi paling banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di India oleh Joseph dkk yang mendapatkan laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu sebanyak 65,9%.10-14 
Pada penelitian ini kelainan refraksi paling banyak ditemukan pada rentang usia 11-15 tahun. Hal ini serupa dengan hasil penelitian Richard S. Ratanna, dkk pada periode Juni 2010 – Juni 2012, menunjukkan kelompok usia 10-14 tahun merupakan kelompok usia tersering ditemukannya kelainan refraksi yaitu sebanyak 64.41% dan paling sedikit pada kelompok usia 1-4 tahun yaitu 0.62%.12 
Pada penelitian ini jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah astigmatisme miopia kompositus yaitu sebanyak 57.2%. Astigmatisme lebih sering ditemukan pada bayi dan anak-anak dibandingkan    dewasa.    Hipotesis menyebutkan adanya hubungan antara astigmatisme dengan miopia. Hal tersebut diduga karena astigmatisme yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan pertumbuhan mata yang tidak terkoordinasi sehingga dikemudian hari berkembang menjadi miopia, sebagaimana hasil penelitian ini yang menunjukkan kasus terbanyak berupa astigmatisme miopia kompositus. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Dandona   dkk   (2002),   Zeng   dkk (2014),
Huynh dkk (2006) bahwa 50% anak usia 2-19 tahun menderita kelainan refraktif astigmatisma. Penelitian yang dilakukan oleh Greta pada tahun 2012 juga memberikan hasil serupa yaitu jenis astigmatisme yang terbanyak adalah astigmatisme miopia sebanyak 80%, astigmatisme hipermetropia 14.2% dan astigmatisme mikstus 5.7%.9,15-18
Penelitian ini memberikan hasil bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan jenis kelainan refraksi. Siregar dkk. dalam penelitiannya juga melaporkan, bahwa proporsi penderita miopia sebesar 56,2% adalah pasien perempuan dan 43,8% pasien laki-laki. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian oleh Dorothy dkk. dimana kelainan refraksi lebih banyak ditemukan pada laki-laki namun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Penelitian Varma dkk di San Pablo dan Wen dkk menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam prevalensi terjadinya miopia, hipermetropia maupun astigmatisme antara laki-laki dan perempuan. Sampai saat ini belum ditemukan bukti berbasis penelitian yang dapat menjawab perbedaan prevalensi kelainan refraksi antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan.19-21
Prevalensi astigmatisme miopia kompositus pada penelitian ini meningkat sehubungan dengan peningkatan usia yaitu 43.3% pada rentang usia 0-5 tahun, 50.9% pada rentang usia 6-10 tahun, dan 63.7% pada rentang usia 11-15 tahun. Peningkatan prevalensi ini sesuai sengan penelitian yang dilakukan oleh Dirani dkk di Singapura pada tahun 2010.22
Kelainan refraktif miopia simpleks terbanyak pada rentang usia 11-15 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh You dkk pada tahun 2014 bahwa angka kejadian miopia meningkat dengan pertambahan usia. Penelitian Pi dkk pada tahun 2010 di Cina menyatakan peningkatan angka kejadian dari 0.42% pada anak usia 6 tahun hingga 27.11% pada anak usia 15 tahun. 23,24
Kelainan refraktif hipermetropia baik hipermetropia    simpleks    maupun astigmatisme menurun sehubungan dengan peningkatan usia. Hasil ini sesuai dengan literatur bahwa keadaan mata anak sejak lahir yaitu hipermetropia dan keadaan hipermetropia ini akan terus meningkat hingga usia 6 tahun lalu akan mulai menurun setelah usia 6 atau 8 tahun. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian oleh Amer pada tahun 2013 bahwa prevalensi hipermetropia menurun dengan peningkatan usia. Penelitian metaanalisis dari 40 penelitian pada berbagai Negara tahun 2014 menemukan hasil yang sama yaitu 5% pada usia 7 tahun, 2-3% pada usia 9-14 tahun dan 1% pada usia 15 tahun. 25-27
Kekurangan penelitian ini yaitu hasil penelitian ini belum dapat mewakili seluruh populasi anak karena sampel yang diambil adalah total sampling di Poliklinik Pediatrik Oftalmologi dan Strabismus PMN RS Mata Cicendo. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pasien anak yang berusia dibawah 3 tahun sehingga dapat mempengaruhi hasil penelitian.
 

Conclusion

Recognition of any refractive error in children is a major step in preventing childhood vision loss, a significant public health problem. There is a correlation between age and sex with the refractive disorder (p < 0.05).

Author Contributions

To describe the correlation between age and sex with the refractive disorder in National Eye Center, Cicendo Eye Hospital on January – December 2015.

Conflict of Interest Statement

There is no conflict of interest

References

1.    Launardo AV, Afifudin A, Syamsu N, Taufik R. Kelainan Refraksi Pada Anak Usia 3-6 Tahun di Kecamatan Tallo Kota Makassar. Program Pasca Sarjana Universitas Hasanudin. 2011
2.    Pararajasegaram R. VISION 2020-The Right to Sight : from Strategies to Action. American Journal of Ophtalmology. 1999;128:359-60
3.    Brien AH, Serge R. The Role of Optometry in Vision 2020. Community Eye Health. 2002;15(43):33-6
4.    World Health Organization. WHO _ Visualimpairment and blindness [Internet]. World Health Organization. 2014. p. Fact Sheet No.282. Diunduh dari: http://www.who.int/mediacentre/factshee ts/fs282/en/
5.    World Health Organization. Global data on Visual Impairments 2010. [Internet]. Diunduh    dari: http://www.who.int/blindness/GLOBAL DATAFINALforweb.pdf?ua=1
6.    Anma AM, Jaelani A. Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Kejadian Rabun Jauh di Poliklinik mata RSUD Kota Baubau. J Med Surg Nurs. 2014;1(1):11-4
7.    Riset Kesehatan Dasar 2013. Diabetes Mellitus. Jakarta; 2013. Hlm. 87-90
8.    Walonker AF. The Pediatric Low-Vision Patients. In: Kenneth W. Wright M, Peter H. Spiegel M, Lisa S. Thompson M, editors. Handbook of Pediatric Neuro Ophtalmology. USA: Springer; 2006. Hlm.85-91
9.    Taylor D, Hoyt CS. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. China: Elsevier Saunders; 2005
10.    Solange R, Rafael W, Adriana B. Prevalence and causes of visual impairment in low middle income school children in Sao Paulo Brazil. Investigative Ophthalmology and Visual Science. 2008: 4308-13
11.    Opubiri I, Adio A, Emmanuel M. Refractive Error of Children in South- South Nigeria: A Tertiary Hospital Study. Sky Journal of Medicine and Medical Sciences.2013;1(3);10-4
12.    Ratanna RS, M.Rares L, Saerang JSM. Kelainan Refraksi pada Anak di BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou. J e-CliniC. 2014;2(2)
13.    Czepita D, Mojsa A, Ustianowska M, Czepita M, Lachowicz E. Prevalence of refractive errors in school children ranging from 6 tp 18 years old. Ann Acd Med Stetin. 2007;53(1):53-6
14.    Joseph N, Nelliyani M, dkk. Proportion of refractive error and its associated factors among high school students in South India. British Journal of Medicine & Medical Research. 2015
15.    Zeng HM, Liu Y, Xu J, Pokharel GP, Ellwein LB. Refractive error and visual impairment in urban children in Southern China. Invest Ophtalmol Vis Sci. 2004;45;793-799
16.    Dandona R, et al. Population-based assessment of refractive error in India: the Andhra Pradesh Eye Disease Study. Clin Exp Ophthalmol. 2002;30:84-93
17.    Huynh SC, Kifley A, Rose KA, Morgan I, Heller GZ, Mitchell P. Astigmatism and its components in 6-year-old children. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2006;47:55-64
18.    Greta H, Petrosyn P, Gillian A. Risk Factors for Developing Myopia Among 6-18 Years Old Schoolchildren in Yerevan and Gegharkunik marz. Armenia: American University of Armenia Yerevan; 2012;2-15
19.    Varma R et all. Prevalence of Myopia and Hyperopia in 6 to 72 month old African American and Hispanic children: the multi-ethnic pediatric eye disease study. American Academy of Ophthalmology Journal. 2010: 140-7
20.    Wen G et all. Prevalence of Myopia, Hyperopia, and Astigmatism in Non- Hispanic White and Asian Children. American Academy of Ophthalmology Journal. 2013;120:2109-16
21.    Siregar VN. Perbedaan Karakteristik Jenis Kelamin terhadap Kelainan Refraksi pada Sisa-Siswi di SD dan SPM RK Budi Mulia Pematangsiantar. 2013.
22.    Dirani M, et al. Prevalence of Refractive Error in Singaporean Chinese Children: The Strabismus, Amblyopia, and Refractive Error in Young Singaporean Children (STARS) Study. Investigative Ophthalmology and Visual Science. March 2010;51:1348-55
23.    You QS, et al. Prevalence of Myopia in School Children in Greater Beijing: The Beijing Childhood Eye Study. Acta Ophthalmol. 2014;92:398-406
24.    Pi LH, et al. Refractive Status and Prevalence of Refractive Errors in Suburban School-Age Children. Int J Med Sci. 2010;7:342-53
25.    Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology A Systemic Approach. Edisi ke-7. Edinburg: Elsevier; 2011;18:764
26.    Amer A, Mohamed T. Prevalence of Manifest Hypermetropia in Primary School Children of Gaza City. Science Journal of Public Health. 2013;1:131-4
27.    Castagno VD, et al. Hyperopia: A Meta- Analysis of Prevalence and review of Associated Factors Among School-Aged Children. BMC Ophthalmology. 2014;14:163
 


Keywords: refractive disorders, visual impairment

Citation: *, ( 2021), Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Jenis Kelainan Refraksi pada Anak di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo

. OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 3(2): 1

Received: 08/08/2021; Accepted: 08/08/2021;
Published: 11/04/2021

Edited by:

Dr.Primawita Oktarima , Sesy Caesarya , Irawati Irfani , Mayasari Wahyu Kuntorini , Feti Karfiati Memed , Dr.Dianita Veulina Ginting ,

Reviewed by:

rova.virgana@unpad.ac.id , Univ. Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, US

Dr.Elfa Ali Idrus, , Indonesia National Eye Centre, Cicendo Eye Hospital Bandung, US

*Correspondence: Dr.Primawita Oktarima , primawita.oktarima@gmail.com