RESEARCH ARTICLES

OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 30 Dec 2020 | 1
Year : 2020 | Volume: 2 | Issue: 2 | Pages : 1

TINGKAT AKURASI PEMERIKSAAN KELAINAN REFRAKSI DENGAN
MENGGUNAKAN TENTATIF KOREKSI DAN
AUTOREFRAKTOMETER DI GIA OPTIKAL

  • 1, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

Pendahuluan : Kelainan refraksi merupakan permasalahan okular yang paling sering ditemukan di
seluruh dunia. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab utama gangguan
penglihatan di dunia, atau mencakup 53% dari seluruh penyebab gangguan penglihatan derajat sedang
dan berat. Pemeriksaan mata dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan salah satunya yaitu di
optik. Pemeriksaan mata dilakukan salah satunya untuk mengetahui adanya kelainan refraksi seperti
miopia, hipermetropia, dan astigmatisma. Terdapat 2 teknik pemeriksaan kelainan refraksi yaitu
pemeriksaan secara subyektif dan obyektif. Pemeriksaan subjektif yaitu memeriksa kelainan pembiasan
mata pasien dengan memperlihatkan kartu lihat jauh dan memasang lensa yang sesuai dengan hasil
pemeriksaan bersama pasien. Pemeriksaan objektif yaitu melakukan pemeriksaan kelainan pembiasan
mata pasien dengan alat tertentu tanpa perlunya kerjasama dengan pasien.
Tujuan : Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat akurasi pemeriksaan kelainan refraksi dengan
tentatif koreksi dan autorefraktometer.
Metode : Agar dapat mempermudah dan mempercepat dalam melakukan pemeriksaan oleh seorang
Refraksionis Optisien, dan penyediaan instrumen optikal. Pengambilan data dilakukan secara primer,
yaitu dengan teknik pengumpulan data interview (wawancara) dan observasi (pengamatan) pada
pasien yang datang ke optikal dengan keluhan kelainan refraksi tanpa disertai diagnosa kelainan
organik.
Hasil : Dari 25 responden yang mempunyai kelainan refraksi, didapatkan 68% hasil penelitian
mempunyai tingkat akurasi yang sangat baik, ini membuktikan bahwa pemeriksaan kelainan refraksi
dengan tentatif koreksi dan autorefraktometer adalah sesuai dengan tabel bennetts & rabbetts.
Kesimpulan : Dari semua pasien yang melakukan pemeriksaan, ditemukan paling banyak menderita
kelainan refraksi adalah perempuan sebanyak 22 responden dengan presentase 88% dengan jenis
kelainan refraksi astigmatisma.

Introduction

Mata merupakan suatu organ refraksi
yang berfungsi untuk membiaskan cahaya
masuk ke retina agar dapat diproses oleh
otak untuk membentuk sebuah gambar.
Struktur mata yang berkontribusi dalam
proses refraksi ini adalah kornea, lensa,
aqueous dan vitreous humor. Cahaya yang
masuk akan direfraksikan ke retina, yang
akan dilanjutkan ke otak berupa impuls
melalui saraf optik agar dapat diproses oleh
otak. Kelainan refraksi ini terjadi apabila
fungsi refraksi pada mata tidak dapat
berjalan dengan sempurna.1
Kelainan refraksi merupakan
permasalahan okular yang paling sering
ditemukan di seluruh dunia. Kelainan
refraksi yang tidak terkoreksi merupakan
penyebab utama gangguan penglihatan di
dunia, atau mencakup 53% dari seluruh
penyebab gangguan penglihatan derajat
sedang dan berat. Kelainan refraksi yang
tidak terkoreksi merupakan penyebab
terbanyak kedua kebutaan setelah katarak,
atau sebanyak 21% dari seluruh penyebab
kebutaan di dunia pada tahun 2015. Angka
kebutaan dan gangguan penglihatan akibat
kelainan refraksi yang tidak terkoreksi
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 7-14. 8
ARTIKEL PENELITIAN
diperkirakan akan terus meningkat hingga
tahun 2020. Angka kelainan refraksi di
Indonesia, mencakup 20,7% dari seluruh
penyebab kebutaan dan 25% dari seluruh
penyebab gangguan penglihatan sedang.2
Pemeriksaan mata dapat dilakukan di
fasilitas pelayanan kesehatan salah
satunya yaitu di optik. Pemeriksaan
dilakukan untuk mengetahui adanya
kelainan refraksi seperti miopia,
hipermetropia, astigmatisma, dan
presbiopi, serta untuk menentukan
besarnya kekuatan lensa koreksi yang
diperlukan. Terdapat 2 teknik pemeriksaan
kelainan refraksi yaitu pemeriksaan secara
subyektif dan obyektif.3,4
Pemeriksaan subjektif yaitu memeriksa
kelainan pembiasan mata pasien dengan
memperlihatkan kartu lihat jauh dan
memasang lensa yang sesuai dengan hasil
pemeriksaan bersama pasien.3,4
Pemeriksaan objektif yaitu melakukan
pemeriksaan kelainan pembiasan mata
pasien dengan alat tertentu tanpa perlunya
kerjasama dengan pasien. Pemeriksaan
objektif yang dipakai meliputi alat streak
retinoskopi dan autorefraktometer atau
yang disebut pemeriksaan dengan
menggunakan komputer3.
Penelitian yang telah dilakukan
penulis terhadap beberapa kasus,
didapatkan berdasarkan pengamatan dan
observasi baik langsung ataupun tidak
langsung pada objek kasus seperti pada
contoh tingkat akurasi pemeriksaan tentatif
koreksi dan autorefraktometer berikut ini :
Tabel 1. Contoh Kasus Tentatif Koreksi dan
Autorefraktometer
Dari hasil penelitian awal
mengindikasikan bahwa kasus ini terjadi
pada beberapa perusahaan optik baik yang
lokal maupun taraf nasional, terindikasi
hasil yang didapatkan hanya berdasarkan
pada penafsiran kasar yang menurut
mereka sudah tepat, bagi beberapa optik
mengindikasikan bahwa pemeriksa hanya
berpedoman pada hasil autorefraktometer
yang terkadang tindakan kalibrasi terhadap
alat tersebut sangat jarang dilakukan
secara periodik. Atas dasar analisa
terhadap beberapa kasus tersebut diatas,
dan berdasarkan Permenkes Nomor 572
Tahun 2008 Tentang Standar Profesi
Refraksionis Optisien ataupun Permenkes
Nomor 41 Tahun 2015 Tentang Standar
Pelayanan Refraksi Optisi/Optometri.5,6
Peneliti sangat tertarik untuk meneliti
mengenai, Tingkat akurasi pemeriksaan
kelainan refraksi dengan menggunakan
tentatif koreksi dan autorefraktometer di
Gia Optikal.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
seberapa besar tingkat akurasi kelainan
refraksi dengan menggunakan tentatif
koreksi.

Materials and Methods

Kerangka konsep dalam kasus ini
dibatasi hanya pada tingkat akurasi
pemeriksaan kelainan refraksi mata
dengan tentatif koreksi dan
autorefraktometer.
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah desain deskripsi
kuantitatif dengan rancangan yang bersifat
Cross Sectional.7 Tidak di maksudkan
untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi
hanya menggambarkan apa adanya
tentang suatu variabel yang dilakukan pada
satu waktu dan satu kali, tidak ada follow
up. Dalam penelitian ini penulis ingin
mengetahui tingkat akurasi pemeriksaan
kelainan refraksi dengan tentatif koreksi
dan auto refraktometer di Gia Optikal.
Populasi pada penelitian ini adalah
Pasien yang melakukan pemeriksaan
refraksi mata di Gia Optikal yang beralamat
di jalan Cihampelas - Cililin No. 150 RT. 02
RW. 02 Kecamatan Cihampelas,
Kabupaten Bandung Barat pada Periode
Februari dengan objek yang diteliti
sebanyak 25 orang responden.
Instrumen penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini berupa lembar kerja
observasi, dan alat yaitu
Autorefraktometer, PD meter, Trial Frame,
Trial lens dan Optotype (Snellen cart).
Serta lembar observasi adalah suatu cara
pengumpulan data dengan pengamatan
langsung dan pencatatan secara sistemis
terhadap objek yang akan diteliti.
Observasi dilakukan oleh peneliti dengan
cara pengamatan dan pencatatan
mengenai pelaksanaan pemeriksaan
kelainan refraksi dengan tentatif koreksi
dan autorefraktrometer.
Pengumpulan data dilakukan dengan
cara interview (wawancara) yaitu dengan
anamnesa dan observasi (pengamatan)
yaitu dengan visus dasar, pinhole, tentatif
spheris, visus tentatif spheris, pusing atau
tidak pusing, visus bvs, pinhole, bvs (bila
belum 6/6), tentatif sphero cylindris, visus
tentatif sphero cylindris, pusing atau tidak
pusing, autoref, visus autoref, pusing atau
tidak pusing, akurasi, koreksi kacamata.8
Berdasarkan usia pasien yang di periksa
di Gia Optikal, Hubungan usia dengan
pemeriksaan menggunakan tentatif dan
autorefraktometer adalah untuk
mempermudah dalam pemeriksaan, untuk
usia anak yang belum bisa berkomunikasi
dengan baik, dan bagi usia di atas 50 tahun
untuk mendeteksi kelainan organik lebih
dini, agar dalam pemeriksaan lebih mudah
dan efisiensi waktu.
Analisa data yang digunakan dalam
laporan penelitian ini adalah analisis
univariat, yaitu berupa analisa data yang
bersifat deskriptif kuantitatif karena hasil
yang didapatkan merupakan variabel hasil
pengukuran dan penghitungan kelainan
refraksi dalam bentuk angka.7 Analisa
univariat dilakukan dengan formula atau
rumus yang digunakan adalah :
Keterangan :
P : Presentase Ketepatan
F : Nilai hasil suatu metode (Tentatif
koreksi)
N : Nilai acuan hasil pengukuran
Autorefraktometer

Results

Responden adalah konsumen yang
membeli kacamata ke Gia Optikal dengan
latar pendidikan, jenis kelamin dan usia,
yang melakukan pemeriksaan mata baik
konsumen baru atau konsumen lama yang
melakukan kontrol kesehatan mata
ataupun konsumen baru yang mengalami
gangguan penglihatan berupa kelainan
refraksi baik miopia, hipermetropia atau
astigmatism tanpa dibarengi adanya
gangguan kelainan organik ataupun
gangguan kesehatan mata yang berat
akibat glaukoma, katarak ataupun akibat
diabetes mellitus.

Discussion

Berdasarkan tabel 3 distribusi frekuensi
jenis kelamin responden hasil penelitian
yang dilakukan dari 25 responden yang ada
di Gia Optikal, didapatkan hasil bahwa
hampir seluruh responden berjenis kelamin
perempuan dengan presentase 88% atau
sebanyak 22 orang. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian National Institute of Eye
Health yang menyatakan perempuan lebih
banyak mengalami kelainan refraksi
No Tingkat Akurasi Pemeriksaan Kelainan Refraksi dengan Tentatife Koreksi Secara Kumulatif
No. Jenis Kelamin Usia Pendidikan
Status Refraksi
Akurasi
OD OS
1 Perempuan Dewasa Awal SMA AMC Ringan AMC Ringan Baik
2 Perempuan Remaja Akhir SMA Myopia Ringan Myopia Ringan Sangat baik
3 Laki-laki Remaja Akhir SMA Myopia Ringan Myopia Ringan Sangat baik
4 Perempuan Remaja Akhir SMA AMC Ringan Myopia Ringan Sangat baik
5 Perempuan Remaja Awal SMP AMC Ringan AMC Ringan Sangat baik
6 Perempuan Remaja Akhir SMA AMC Ringan Astigmatisma Sangat baik
7 Perempuan Remaja Akhir SMA Myopia Ringan Astigmatisma Sangat baik
8 laki-laki Remaja Akhir SMP Astigmatisma Astigmatisma Sangat baik
9 perempuan Remaja Awal SMA Myopia Ringan AMC sedang Sangat baik
10 perempuan Remaja awal SMA Astigmatisma Astigmatisma Sangat baik
11 perempuan Remaja Akhir D3 Myopia Ringan Myopia Ringan Sangat baik
12 perempuan Remaja Akhir SMA AMC Sedang AMC Ringan Sangat baik
13 Perempuan Remaja Awal SMP AMC Ringan AMC Ringan Baik
14 Perempuan Remaja Awal SMA AMC Ringan Myopia Ringan Sangat baik
15 Perempuan Remaja Akhir D3 Astigmatisma Normal Sedang
16 Laki-laki Dewasa Akhir D3 Astigmatisma
Ringan
Astigmatisma
Ringan Sangat baik
17 Perempuan Remaja akhir SMA AMC Sedang AMC sedang Sedang
18 Perempuan Remaja Akhir S1 Myopia Ringan AMC Ringan Sangat baik
19 Perempuan Remaja Akhir SMA AMC Ringan AMC Ringan Baik
20 Perempuan Dewasa Awal SMA AMC Ringan AMC Ringan Sedang
21 Perempuan Dewasa Awal SMA AMC Sedang AMC sedang Kurang
22 Perempuan Remaja Akhir SMA AMC Ringan Astigmatisma Baik
23 Perempuan Remaja Akhir S1 Myopia Ringan Myopia Ringan Sangat baik
24 Perempuan Dewasa Awal S1 AMC Ringan AMC Ringan Sangat baik
25 Perempuan Remaja Awal SMA AMC Sedang AMC Ringan Sangat baik
Tabel 7 Tingkat Akurasi Pemeriksaan Kelainan Refraksi Dengan Tentatif Koreksi Secara Kumulatif
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 7-14. 13
ARTIKEL PENELITIAN
dibandingkan laki-laki dimana lebih dari
26% perempuan berusia 12 tahun ke atas
mengalami gangguan penglihatan yang
tidak dikoreksi akibat kelainan refraksi
dibandingkan laki-laki. Selain itu,
didapatkan14% perempuan berusia lebih
dari 40 tahun yang mengalami kelainan
refraksi dibandingkan lakilaki berusia 40
tahun ke atas. Hal ini karena perempuan
lebih memperhatikan tentang
kesehatannya sehingga mereka lebih
cepat memeriksakan dirinya jika ada
keluhan tentang kesehatannya.9
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan
bahwa sebagian besar usia responden
dilihat dari klasifikasinya memasuki usia
remaja akhir antara 17-25 tahun dengan
presentase sekitar 56% memiliki kelainan
refraksi. Menurut Wang (2015)
mengatakan faktor usia adalah salah satu
faktor yang sangat mempengaruhi
terhadap angka kejadian miopia, dimana
usia yang lebih tinggi lebih berisiko untuk
mengalami miopia dibandingkan dengan
usia yang lebih muda.10
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan
bahwa sebagian besar tingkat pendidikan
responden dilihat dari klasifikasinya yaitu
tingkat pendidikan SMA/SMK sebanyak 15
responden dengan presentase sekitar
60%. Tingkat pendidikan dalam sebuah
penelitian disebutkan juga memiliki
hubungan dengan aktivitas jarak dekat.
Prevalensi miopia meningkat pada orang
yang memiliki tingkat pendidikan. Hal ini
berhubungan dengan tingkat pendidikan
yang tinggi berhubungan dengan waktu
yang dihabiskan untuk aktivitas jarak dekat
(Wei Pan, 2011).11
Berdasarkan tabel 4 tingkat akurasi
kelainan refraksi dengan tentatif koreksi
terbagai dalam 5 kriteria sangat kurang
sebanyak 0 responden dengan presentase
0%, kurang 1 responden dengan
presentase 4%, sedang 1 responden
dengan presentase 4%, baik 4 responden
dengan presentase 16%, sangat baik 19
responden dengan presentase 76%. Dapat
disimpulkan bahwa tingkat akurasi pada
pasien atau konsumen yang di periksa di
Gia Optikal dapat mencapai tingkat akurasi
yang sangat baik sebanyak 19 responden
atau sekitar 76%, hal ini sejalan dengan
tabel tentatif koreksi benetts & rabbett.12
Berdasarkan tabel 6 tingkat akurasi
pemeriksaan kelainan refraksi dengan
tentatif koreksi berdasarkan derajat status
refraksi mendapatkan 5 derajat status
refraksi dangan satu mata satu mata OD
dan OS, normal OS 1 dengan preentase
4%, myopia OD 7 dengan presentase 28%
dan myopia ringan OS 6 presentase 24%,
AMC ringan OD 10 dengan presentase
40%, AMC ringan OS 9 dengan presentase
36%, AMC sedang OD 4 presentase 16%,
AMC sedang OS 3 dengan presentase
12%, astigmatsima ringan OD 4 dengan
presentase 16%, astigamte ringan OS 6
dengan presentase 24%. Pada
pemeriksaan refraksi terhadap seluruh
responden didapatkan diagnOSis
terbanyak, yaitu astigmatisma OD 72%
dan OS 72%. hasil ini sejalan dengan
penelitian Ovenseri–Ogbomo yang
melaporkan Astigmatisma sebagai
kelainan refraksi terbanyak.13
Berdasarkan tabel 7 tingkat akurasi
pemeriksaan kelainan refraksi dengan
tentatif koreksi secara kumulatif. Pada
penelitian ini jenis kelainan refraksi yang
paling banyak ditemukan adalah
astigmatisma miopia kompositus,
astigmatisma lebih sering ditemukan pada
perempuan remaja akhir, dengan tingkat
pendidikan SMA. Hipotesis menyebutkan
adanya hubungan antara astigmatisma
dengan miopia. Hal tersebut diduga karena
astigmatisma yang tidak terkoreksi dapat
menyebabkan pertumbuhan mata yang
tidak terkoordinasi sehingga dikemudian
hari berkembang menjadi miopia,
sebagaimana hasil penelitian ini yang
menunjukkan kasus terbanyak berupa
astigmatisme miopia kompositus. Hasil
penelitian ini didukung oleh penelitian
Dandona dkk (2002), Zeng dkk (2014).14
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 7-14. 14
ARTIKEL PENELITIAN
Tingkat akurasi pemeriksaan kelainan
rerfraksi dengan menggunakan tentatif
koreksi dan autorefraktometer sesuai
dengan apa yang diteliti, dengan jumlah
responden 25 responden, sebanyak 17
responden dengan presentase 72%
dengan tentatif dan akurasi sangat baik
sesuai dengan tabel bennetts and
rabbetts.12

References

Guyton, A. C., Hall JE. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. 12th ed. Jakarta: EGC; 2014.
1022 p.
2. Paramitasari, D. RN. Gambaran Kelainan
Refraksi Tidak Terkoreksi pada Program
Penafisan oleh Unit Oftalmologi Komunikasi
Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata
Cicendo di Wilayah Kabupaten Bandung.
2018;1–11. Available from:
http://perpustakaanrsmcicendo.com/2018/1
2/04/gambaran-kelainan-refraksi-tidakterkoreksi-
pada-program-penapisan-olehunit-
oftalmologi-komunitas-pusat-matanasional-
rumah-sakit-mata-cicendo-diwilayah-
kabupaten-bandung-tahun-2017/
3. Ilyas, S. Kelainan Refraksi dan Kaca Mata
Edisi II. Kedua. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2006.
4. Maksus, A. Standar Prosedur Pemeriksaan
Refraksi untuk Refraksionis Optisien
(Diploma Optometris). Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2016. 8 p. Available from:
www.bpfkui.com
5. MenKes. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
572/MenKes/SK/VI/2008 Tetang Standar
Profesi Refraksionis Optisien. Jakarta; 2008.
6. MenKes. Peraturan Menteri Kesehatan No.
41 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan
Refraksi Optisi/Optometri. Jakarta; 2015.
7. Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian
Kesehatan. 5th ed. Jakarta: Rineka Cipta;
2010.
8. DHB. Panduan Tugas Akhir Karya Tulis
Ilmiah/Skripsi Mahasiswa STIKes Dharma
Husada Bandung. Bandung; 2020. 19–21 p.
9. Kalangi, W., Rares, L., Sumual V. Kelainan
Refraksi Di Poliklinik Mata Rsup Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado Periode Juli 2014-Juli
2016. JKK (Jurnal Kedokteran Klinik.
2016;1(1):83–91.
10.Agus H, Bahri TS. Faktor risiko terjadi miopia
pada siswa di sma negeri 3 banda aceh. J
Ilm Univ Syiah Kuala. 2016;1–10. Available
from: www.jim.unsyiah.ac.id
11.Zulma NI, Setyandriana Y. The Influence of
Genetic Factors And Lifestyle on The
Incidence of Myopia Among Children Aged
9-12 Years Old. 2014;013. Available from:
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t61538.pd
f
12.Rabbets, R. Clinical Visual Optics. Fourth.
China: Elsevier; 2007. 104 p. Available from:
www.elsevier.com
13.Nintyastuti IK, Geriputri NN, Prihatina LM.
Prevalensi Gangguan Refraksi pada
Mahasiswa Baru Universitas Mataram
Angkatan 2014. Jurnal Kedokteran.
2016;5(4):1–3. Available from:
jku.unram.ac.id
14.Ginting, DV., Amiruddin P. Hubungan Usia
dan Jenis Kelamin Dengan Jenis Kelainan
Refraksi Pada Anak di Pusat Mata Nasional
Rumah Sakit Mata Cicendo. Departemen
Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran. 2015; Available
from: perpustakaanrsmcicendo.com


Keywords: Akurasi, Autorefraktometer, Kelainan Refraksi, tentatif

Citation: Anggit Nugroho*,Cep Irfan Muhrom SB, Suparni, ( 2020), TINGKAT AKURASI PEMERIKSAAN KELAINAN REFRAKSI DENGAN
MENGGUNAKAN TENTATIF KOREKSI DAN
AUTOREFRAKTOMETER DI GIA OPTIKAL. OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 2(2): 1

Received: 26/12/2020; Accepted: 26/12/2020;
Published: 30/12/2020

Edited by:

Anggit Nugroho , Cep Irfan Muhrom SB , Suparni ,

Reviewed by:

Antonia Kartika , , PMN RS Mata Cicendo Bandung, US

Tim Editor , , PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

*Correspondence: Anggit Nugroho, raffa.refraksionis@gmail.com