RESEARCH ARTICLES

OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 30 Dec 2020 | 1
Year : 2020 | Volume: 2 | Issue: 2 | Pages : 1

VALIDITAS PEMERIKSAAN FOTO FUNDUS PORTABEL 3 LAPANGPANDANG MIDRIATIK SEBAGAI ALAT SKRINING RETINOPATIDIABETIK RINGAN

  • 11Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID
  • 2Universitas Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID
  • 3Universitas Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

Pendahuluan : Retinopati diabetik merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetesmelitus dan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kebutaan yang dapat dicegah. Metodeyang efektif pada skrining retinopati diabetik merupakan hal yang penting untuk deteksi dini, terutamapada populasi yang sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Keuntungan akan didapatkandengan penggunaan alat foto fundus yang murah, portabel, mudah dioperasikan, dengan kualitas citrafoto yang baik.Metode : Penelitian ini merupakan suatu uji diagnostik menggunakan desain penelitian potong lintang.Sebanyak 100 citra foto fundus dari penderita diabetes melitus dari pemeriksaan foto fundus portabel 3lapang pandang midriatik yang diikuti pemeriksaan standar dengan foto fundus 7 lapang pandangETDRS. Penilaian derajat retinopati diabetik terhadap citra foto fundus dilakukan oleh seorang ahlivitreoretina. Validitas pemeriksaan foto fundus portabel 3 lapang pandang midriatik dibandingkandengan pemeriksaan baku emas foto fundus 7 lapang pandang ETDRS ditentukan dalam mendeteksiretinopati diabetik ringan.Hasil : Pada penelitian ini dihasilkan sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan foto fundus portabel 3lapang pandang midriatik adalah 80% (95% KI : 64,1 – 90,0%) dan 98,5% (95%KI : 91,8 – 99,7%).Simpulan : Foto fundus portabel 3 lapang pandang midriatik dapat digunakan sebagai alat skriningyang efektif dalam mendeteksi retinopati diabetik ringan.

Introduction

Diabetes melitus (DM) merupakan
masalah kesehatan global dan komplikasi
okular menjadi penyebab utama kebutaan.
Berdasarkan International Diabetes
Federation (IDF) tahun 2013 terdapat
8.554.170 orang di Indonesia yang berusia
20-79 tahun menderita diabetes melitus.
Penderita DM memiliki kemungkinan
menjadi buta 15 kali lebih tinggi daripada
penderita bukan DM dan sekitar 80%
kebutaan tersebut berhubungan dengan
retinopati diabetik. Seiring meningkatnya
jumlah penderita DM, meningkat pula
prevalensi retinopati diabetik dan risiko
kebutaan yang diakibatkan. Hasil telaah
literatur secara sistemik dari berbagai
penelitian berbasis populasi menunjukkan
bahwa 34,6% dari penderita DM
didiagnosis retinopati diabetik dan 10,2%
dengan retinopati diabetik mengancam
penglihatan.1-8
Retinopati diabetik merupakan
komplikasi mikrovaskular dari DM di mana
terjadi perubahan pada struktur pembuluh
darah retina. Tatalaksana dini pada
retinopati diabetik dapat mencegah
terjadinya kehilangan penglihatan berat
sehingga diperlukan suatu program
skrining retinopati yang efektif dalam upaya
deteksi dini. Namun masih terdapat
berbagai hambatan untuk mendapatkan
akses pelayanan, seperti jumlah dokter
mata, faktor geografi ataupun
sosioekonomi. Program skrining retinopati
diabetik semakin berkembang dan meluas
hingga ke area rural, melalui fasilitas
pelayanan primer atau unit pencitraan
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 1-6. 2
ARTIKEL PENELITIAN
mobile sehingga diperlukan alat kamera
fundus yang portabel, berbiaya rendah,
mudah digunakan, dan memiliki kualitas
foto.1,9-13,15
Sampai saat ini baku emas untuk
deteksi dalam menilai derajat retinopati
diabetik adalah foto fundus 7 lapang
pandang ETDRS midriatik dengan
menggunakan alat foto fundus
nonportabel, namun pemeriksaan ini
memerlukan alat pemeriksaan dengan foto
fundus yang besar, tidak portabel, waktu
yang lama, mahal dan bergantung dari
tersedianya pemeriksa yang terlatih. Foto
fundus portabel dikatakan sangat ringan,
mudah dibawa, mudah digunakan, tidak
memerlukan ruang yang besar, dan lebih
murah sehingga penggunaannya dapat
menangani kesulitan secara geografis
maupun sosioekonomi yang menghalangi
cakupan pelayanan. Strategi skrining
retinopati diabetik yang ideal masih belum
ada namun dengan perkembangan
teknologi fotografi di bidang oftalmologi dan
komunikasi telah mengembangkan
telemedicine. Hadirnya kamera yang
semakin kecil, seperti foto fundus portabel
dan kamera telepon genggam, dapat
menghasilkan pencitraan retina dengan
kualitas tinggi.9,13-15
Penelitian ini bertujuan untuk menilai
validitas hasil diagnosis menggunakan
pemeriksaan foto fundus portabel 3 lapang
pandang midriatik yang akan dibadingkan
dengan hasil diagnosis meggunakan foto
fundus nonportabel 7 lapang pandang
ETDRS midriatik sebagai baku emas dalam
mendeteksi adanya retinopati dibatik
ringan.

Materials and Methods

potong lintang dengan rancangan uji
diagnostik yaitu mencari validitas
pemeriksaan foto fundus portabel 3 lapang
pandang midriatik yang dibandingkan
dengan diagnosis hasil pemeriksaan foto
fundus nonportabel 7 lapang pandang
ETDRS midriatik sebagai baku emas pada
penderita DM tipe 2 dalam deteksi
retinopati diabetik ringan. Objek penelitian
adalah hasil foto fundus dari penderita
diabetes melitus tipe 2 yang datang ke
Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo
Bandung dan memenuhi kriteria inklusi
serta bersedia mengikuti penelitian dan
mengisi lembar persetujuan (informed
consent) dari bulan September sampai
November 2017 berdasarkan urutan
kedatangan (consecutive admission). Pada
penelitian ini dipilih taraf kepercayaan 95%
(Zα = 1,96), sensitivitas alat yang
diinginkan 90% dengan presisi penelitian
10% sehingga diperlukan ukuran sampel n’
= 100 citra foto fundus.
Kriteria inklusi penelitian ini adalah citra
foto fundus dari penderita DM tipe 2 berusia
≥ 35 tahun dengan retinopati diabetik
ringan dan tanpa retinopati diabetik dalam
kondisi pupil dilatasi dengan kualitas
gambar foto fundus baik, yaitu derajat
kejernihan 0 dan 1 menurut kriteria
Nussenbalt. Penilaian derajat kejernihan
tampilan citra foto fundus menggunakan
sistem kriteria kejernihan yang diadaptasi
dari Nussenbalt dkk. Kriteria tersebut
yaitu16:
• 0 menunjukkan detail fundus jelas
• 1 menggambarkan tepi diskus optikus
dan pembuluh darah halus sedikit kabur
• 2 menunjukkan pembuluh darah halus
terlihat tetapi gambarannya kabur
• 3 adalah hanya terlihat pembuluh darah
besar tetapi tepi diskus kabur
• 4 menggambarkan diskus optikus
terlihat dan pembuluh darah di
dalamnya tidak terlihat
• 5 menunjukkan didapatkan reflex
fundus, tetapi diskus optikus tidak
terlihat.
Kriteria eksklusi penelitian ini adalah
hasil foto fundus yang tidak optimal
sehingga sulit dilakukan penilaian yang
dapat diakibatkan karena adanya
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 1-6. 3
ARTIKEL PENELITIAN
kekeruhan media refraksi, seperti kelainan
distrofi, sikatrik kornea, katarak, dan
kekeruhan vitreus.

Results

Penelitian dilakukan terhadap 100 citra
foto fundus portabel 3 lapang pandang
midriatik dan 100 citra foto fundus
nonportabel 7 lapang pandang ETDRS
yang berasal dari penderita DM yang
memenuhi kriteria inklusi.
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa total 100
citra foto fundus yang masuk ke dalam
kriteria inklusi. Rerata usia adalah
60,79±7,608 tahun (46–85 tahun).
Penderita DM paling banyak terdapat pada
usia >49 tahun, jenis kelamin perempuan,
dan lama menderita DM selama <5 tahun.
Terdapat 35 citra foto fundus menunjukan
adanya NPDR ringan, dan 65 citra foto
fundus menunjukan tidak ada NPDR
berdasarkan hasil pemeriksaan baku emas
foto fundus nonportabel 7 lapang pandang
ETDRS.
Hasil penilaian terhadap citra foto
fundus terlihat pada tabel 4.2 berupa tabel
2x2 yang menunjukan bahwa penilaian
adanya NPDR ringan atau tidak ada NPDR
pada 100 citra foto fundus dilakukan baik
dengan foto fundus portabel 3 lapang
pandang midriatik dan nonportabel 7
lapang pandang ETDRS yang dilakukan
oleh seorang ahli vitreoretina.
Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik NPDR Ringan
(n = 35)
Tidak NPDR
(n = 65)
Usia
≤ 49 tahun
> 49 tahun
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Lama DM
< 5 tahun
5 – 9 tahun
≥ 10 tahun
4
31
11
24
15
10
10
1
64
20
45
38
12
15
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Foto Fundus
Portabel 3 Lapang Pandang Midriatik dan
Foto Fundus 7 Lapang Pandang ETDRS
Foto ETDRS
NPDR
Ringan
Tidak
NPDR
Total
Foto
Porta
bel
NPDR
ringan
Tidak
NPDR
28
7
1
64
29
71
Total 35 65 100
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 1-6. 4
ARTIKEL PENELITIAN
Tabel 4.3 menunjukkan validitas
pemeriksaan citra foto fundus antara foto
fundus portabel 3 lapang pandang midriatik
dengan foto fundus nonportabel 7 lapang
pandang ETDRS meliputi sensitivitas
(80,0%), spesifisitas (98,5%), nilai duga
positif (96,6%), nilai duga negatif (90,1%),
dan akurasi (92,0%). Interval kepercayaan
menunjukkan taksiran rentang nilai pada
populasi yang dihitung dengan nilai yang
diperoleh pada sampel.
Tabel 4.3 Validitas Hasil Pemeriksaan Foto
Fundus Portabel 3 Lapang Pandang
Midriatik
Parameter
uji
diagnostik
Nilai 95% Interval
Kepercayaan (IK)
Sensitivitas
Spesifisitas
Nilai duga
positif
Nilai duga
negatif
Akurasi
80,0 %
98,4 %
96,5 %
90,1 %
92,0 %
64,1 - 90,0%
91,8 - 99,7%
82,8 - 99,4%
81,0 - 95,1%
85,0 - 95,9%
Hasil uji diagnostik foto fundus portabel
3 lapang pandang midriatik yang
dibandingkan dengan baku emas foto
fundus nonportabel 7 lapang pandang
ETDRS dalam menilai diabetik retinopati
ringan memiliki sensitivitas dan spesifisitas
yang tinggi yaitu sensitivitas 80,0% dan
spesifisitas 98,4% dengan akurasi yang
tinggi sebesar 92,0%. Hal ini menunjukan
bahwa hasil pemeriksaan foto fundus
portabel 3 lapang pandang midriatik valid
untuk dijadikan alat skrining retinopati
diabetik ringan.

Discussion

Pada penelitian didapatkan penderita
DM berjenis kelamin perempuan lebih
banyak dibandingkan dengan sampel
berjenis kelamin laki-laki dengan rentang
usia >49 tahun. Hasil ini sesuai dengan
hasil penelitian Soewondo P. dkk yang
melakukan skrining DM dimana terdapat
61,6% diderita oleh perempuan, hasil
Riskesdas Kemenkes tahun 2013 yang
menyebutkan bahwa prevalensi penderita
DM pada perempuan cenderung lebih
tinggi dan usia >47 tahun sebesar 55%,
serta penelitian oleh Syuhada R. yang
menunjukan penderita DM paling banyak
berjenis kelamin perempuan sebanyak
53,3% dan dengan usia >49 tahun
sebanyak 66,7%.17-19
Penelitian oleh Syuhada R. tentang uji
diagnostik foto fundus 5 lapang pandang
nonmidriatik dengan 7 lapang pandang
ETDRS pada penderita retinopati diabetik
dini mendapatkan hasil sensitivitas 81%
dan spesifisitas 94%. Sensitivitas yang
lebih tinggi pada penelitian tersebut
mungkin karena jumlah lapang pandang
yang lebih banyak dibandingkan dengan
penelitian ini. Hasil yang berbeda didapat
dari penelitian lain oleh Aptel dkk. yang
membandingkan jumlah lapang pandang
pada pemeriksaan oftalmoskopi indirek
yang menyatakan bahwa foto fundus 3
lapang pandang nonmidriatik mempunyai
sensitivitas 92% dan spesifisitas 97% untuk
deteksi retinopati diabetik. Perbedaan hasil
ini mungkin disebabkan karena standar
baku yang digunakan pada penelitian
tersebut adalah pemeriksaan fundus
dengan oftalmoskop indirek yang bukan
merupakan baku emas protokol
penelitian.17,20-21
Penelitian oleh Ting dkk. yang menilai
validitas alat foto fundus portabel
dibandingkan dengan nonportabel pada 3
lapang pandang dengan pupil dilatasi
dalam menilai derajat retinopati diabetik
didapatkan hasil sensitivitas 93% dan
spesifisitas 98%. Perbedaan ini mungkin
karena pada penelitian tersebut tidak
dibandingkan dengan baku emas foto
fundus 7 lapang pandang ETDRS.
Penelitian lain oleh Murgatroyd dkk.
menghasilkan sensitivitas 77% dan
spesifisitas 95% pada pemeriksaan foto
fundus 1 lapang pandang nonmidriatik dan
sensitivitas 83% dan spesifisitas 93% pada
pemeriksaan 3 lapang pandang midriatik
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 1-6. 5
ARTIKEL PENELITIAN
dalam mendeteksi retinopati diabetik yang
perlu dirujuk. Penelitian tersebut juga
menunjukan bahwa kondisi midriatik
secara signifikan menurunkan proporsi
citra foto fundus yang dapat dinilai dari 26%
menjadi 5%. Hal ini menunjukan bahwa
sensitivitas meningkat pada pemeriksaan
foto fundus dengan jumlah lapang pandang
yang lebih banyak dan kondisi pupil
lebar.22-23
Penelitian oleh Zhang dkk.
menggunakan foto fundus portable
menghasilkan nilai sensitivitas 64-94% dan
spesifisitas 71–90% dalam mendiagnosis
retinopati diabetik yang mengancam
penglihatan. Namun pada penelitian
tersebut dilakukan pada 1 lapang pandang
dan hanya untuk menilai derajat retinopati
diabetik yang sudah mengancam
penglihatan dan perlu rujukan segera.15
British Diabetic Association
merekomendasikan target minimal
sensitivitas sebesar 80% dan spesifisitas
sebesar 95% dalam acuan standar untuk
program skrining retinopati diabetik.
Sensitivitas dan spesifisitas pada penelitian
ini sebesar 80% dan 98,5% yang
menunjukan bahwa pemeriksaan foto
fundus portabel 3 lapang pandang midriatik
dapat menjadi metode skrining untuk
menilai retinopati diabetik ringan.13,15
Keterbatasan pada penelitian ini adalah
kesulitan dalam menentukan fiksasi pada
subjek saat menggunaan foto fundus
portabel untuk mendapatkan citra foto
fundus dengan ketepatan lapang pandang
yang diharapkan. Oleh karena itu
diperlukan suatu pelatihan khusus bagi
fotografer teknisi untuk meningkatkan
kemampuan dalam melakukan
pengambilan citra foto fundus 3 lapang
pandang dengan menggunakan foto
fundus portabel.

Conclusion

Pemeriksaan foto fundus portabel 3
lapang pandang midriatik memiliki validitas
yang baik sehingga dapat dijadikan
sebagai alat skrining retinopati diabetik
ringan.
Skrining retinopati diabetik
menggunakan foto fundus portabel 3
lapang pandang midriatik dapat digunakan
di kegiatan komunitas pada populasi yang
lebih besar. Perlu dilakukan pelatihan
kepada fotografer teknisi dalam
pengambilan citra foto fundus
menggunakan alat foto fundus portabel
dengan 3 lapang pandang.

References

Rema M, Pradeepa R. Ocular complication
in diabetes. Dalam: Tripathy BB, Chandalia
HB, Das AK, Rao PV, editor. RSSDI
Textbook of diabetes mellitus. Edisi ke-2. Vol
2. New Delhi: Jaypee; 2012. hlm. 990–1006.
2. Ahmed KA, Muniandy S, Ismail IS. Type 2
diabetes and vascular complication: a
patophysiology view. Biomedical Research.
2009; 21(2): 147–55.
3. International Diabetes Federation Indonesia.
2016. Available from:
http://www.idf.org/membership/wp/indonesi
a
4. Cavallerano J. Optometric clinical practice
guideline care of the patient with diabetes
mellitus. Edisi ke-3. St. Louis: American
Optometric Association; 2009. hlm. 16–23.
5. Cordiero MF. Endocrine disorder. Dalam:
Crick RP, Khaw PT, editor. A texbook of
clinical ophthalmology. Edisi ke-3. New
Jersey: World Scientific; 2003. hlm. 312-7.
6. Ting DSW, dkk. Surgical
outcomes,complication and predictive
surgical factors of diabetic retinopathy
vitrectomy in a large asian tertiary center. J
Clin Exp Ophthalmol. 2015; 6(6): 1-6.
7. Yau JWY, dkk. Global prevalence and major
risk factors of diabetic retinopathy. Diabetes
Care. 2012; 35: 556-64.
8. Sitompul, R. Retinopati diabetik. J Indon
Med Assoc. 2011; 61(8): 337-41.
9. Ryan ME, Rajalakshmi R, Prathiba V,
Anjana RM, Ranjani H, Narayan KMV.
Comparison among methods of retinopathy
assessment (CAMRA) study: Smartphone,
nonmydriatic, and mydriatic photography.
American Academy of Ophthalmology.
2015;122(10):2038–43.
10. Rashid RAM. Hand held fundus camera.
Health Technology Assessment Section
Jurnal Oftalmologi (2020), Vol. 2, No. 2, 1-6. 6
ARTIKEL PENELITIAN
(MaHTAS) Medical Development Division
Ministry of Health Malaysia. 2015.
11. Singh R, Ramasamy K, Abraham C, Gupta
V. Diabetic retinopathy: An update. Indian J
Ophthalmol. 2008; 56(43): 179-88.
12. Bhandary SV, Rao LG, Addoor KR, Katte
RA, Kusumgar P KA. Efficacy of cost
effective, portabe nonmydriatic fundus
camera, manufactured in India, to detect
retinal pathology in comparison with regular
mydriatic fundus camera. Internatonal
Journal of Medical and Public Health. 2015;
4(6): 835–40.
13. Vujosevic S, dkk. Screening for diabetic
retinopathy: 1 and 3 nonmydriatic 45-degree
digital fundus photographs vs 7 standard
early treatment diabetic retinopathy study.
Am J Ophthalmol. 2009; 148: 111-8.
14. Cooper T, Phil D. Use of a portable fundus
camera in setting up a diabetic retinopathy
screening programme in Uganda. Diabetic
Eye Journal. 2015: 28-30.
15. Zhang W, Nicholas P, Schuman SG,
Allingham MJ, Faridi A, Suthar T, et al.
Screening for diabetic retinopathy using a
portable, noncontact, nonmydriatic handheld
retinal camera. J Diabetes Sci Technol.
2017; 11(1): 128-34.
16. Maberley D, Morris A, Hay D. A comparison
of digital retinal image quality among
photographers with different levels of
training using a nonmydriatic fundus
camera. Ophthalmic Epidemiol. 2004; 11(3):
191-7.
17. Syuhada R. Ketepatan Diagnosis
Pemeriksaan Foto Fundus 5 Lapang
Pandang tanpa Dilatasi Pupil pada
Penderita Retinopati Diabetik Dini. Bagian
Mata FK Unpad, RS Mata Cicendo
Bandung. 2012.
18. Soewondo P, Pramono LA. Prevalence,
Characteristics and Predictors of Pre
Diabetes in Indonesia. Med J Indones. 20(4).
283-94.
19. Litbang Depkes. Laporan Riskesdas 3013.
Diunduh dari www.litbang.depkes.go.id.
20. Aptel F, Denis P, Rouberol F, Thivolet C.
Screening of diabetic Retinopathy: effect of
field number and mydriasis on sensitivity and
specificity of digital fundus photography.
Diabetes Metabolism. 2008; 34(3): 290-3.
21. Syuhada R. Ketepatan Diagnosis
Pemeriksaan Foto Fundus 5 Lapang
Pandang tanpa Dilatasi Pupil pada
Penderita Retinopati Diabetik Dini. Bagian
Mata FK Unpad, RS Mata Cicendo
Bandung. 2012.
22. Murgatroyd H, Ellingford A, Cox A, Binnie M,
Ellis JD, MacEwen CJ, et al. Effect of
mydriasis and different field strategies on
digital image screening of diabetic eye
disease. Br J Ophthalmol. 2004; 88(7): 920–
4.
23. Ting DSW, Tay-Kearney ML. Light and
portable novel device for diabetic
retinopathy screening. Clinical &
Experimental Ophthalmology. 2012; 40(1):
40-6.


Keywords: citra foto fundus, midriatik, portabel, retinopati diabetik ringan

Citation: Patriotika Muslima*,Erwin Iskandar,Andika Prahasta ,Patriotika Muslima,Erwin Iskandar,Andika Prahasta ( 2020), VALIDITAS PEMERIKSAAN FOTO FUNDUS PORTABEL 3 LAPANGPANDANG MIDRIATIK SEBAGAI ALAT SKRINING RETINOPATIDIABETIK RINGAN. OFTALMOLOGI : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia, 2(2): 1

Received: 26/12/2020; Accepted: 26/12/2020;
Published: 30/12/2020

Edited by:

Patriotika Muslima , 1Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

Reviewed by:

Antonia Kartika , , PMN RS Mata Cicendo Bandung, US

Tim Editor , , PMN RS Mata Cicendo Bandung, ID

*Correspondence: Patriotika Muslima , patriotikamuslima@gmail.com